Ketika Amerika Serikat dan China berlomba membangun AI paling canggih, Korea Selatan memilih jalan yang berbeda: membuat AI-nya sendiri.
Negara yang selama ini dikenal sebagai kekuatan besar dalam semikonduktor, smartphone, otomotif, dan elektronik tersebut kini ingin memastikan bahwa mereka tidak hanya menjadi pemasok chip untuk revolusi AI, tetapi juga memiliki teknologi AI yang menjadi otaknya. Pada September 2026, Kementerian Sains dan ICT Korea Selatan mengumumkan rencana investasi 4,7 triliun won atau sekitar US$3,5 miliar untuk mengembangkan frontier AI model buatan dalam negeri yang ditargetkan mulai berjalan pada Maret 2027. Pemerintah berencana membentuk dana khusus untuk proyek tersebut, meskipun rincian persis program masih dalam tahap penyusunan.
Angka tersebut bukan investasi kecil. Jika dikonversikan secara kasar ke rupiah dengan kurs sekitar Rp16 ribuan per dolar AS, nilainya berada di kisaran Rp55 triliun lebih. Investasi tersebut juga bukan langkah yang berdiri sendiri. Pemerintah Korea Selatan sebelumnya telah menetapkan ambisi untuk menjadikan negaranya sebagai salah satu dari tiga kekuatan AI terbesar di dunia, dengan anggaran AI sekitar 10,1 triliun won pada 2026, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah juga berencana mendorong investasi publik dan swasta hingga sekitar 30 triliun won dalam strategi AI nasionalnya.
Yang membuat langkah Korea Selatan menarik bukan sekadar jumlah uangnya. Ada alasan strategis di balik keputusan tersebut. Dalam pernyataan yang dilaporkan Yonhap, Menteri Sains Korea Selatan Bae Kyung-hoon menekankan pentingnya memiliki sovereign frontier model agar Korea Selatan tidak menjadi terlalu bergantung pada negara lain, terutama ketika persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China semakin tajam.
Dengan kata lain, Seoul sedang mencoba menjawab pertanyaan yang semakin penting di era AI: apa yang terjadi jika sebuah negara memiliki chip canggih, tetapi kecerdasan buatan yang menjalankan teknologi tersebut sepenuhnya bergantung pada perusahaan dari negara lain?
Mengapa Korea Selatan Ingin Memiliki AI Sendiri?
Selama beberapa tahun terakhir, pusat perhatian industri AI global banyak tertuju pada Amerika Serikat dan China. Amerika memiliki perusahaan seperti OpenAI, Google, Anthropic, Meta, dan sejumlah perusahaan teknologi besar lain yang mengembangkan model AI dengan kemampuan semakin tinggi. China juga membangun ekosistem model domestiknya sendiri dan memiliki perusahaan teknologi yang agresif mengembangkan AI. Persaingan tersebut tidak hanya menyangkut chatbot, tetapi juga komputasi, semikonduktor, data, model bahasa, robotika, dan infrastruktur pusat data.
Korea Selatan berada dalam posisi yang unik. Negara tersebut memiliki perusahaan semikonduktor kelas dunia seperti Samsung Electronics dan SK Hynix, serta industri manufaktur yang sangat kuat. Permintaan AI bahkan telah menjadi salah satu pendorong utama bisnis chip Korea Selatan. Reuters melaporkan pada Oktober 2026 bahwa Samsung memperkirakan laba operasional kuartal ketiganya mencapai 107,4 triliun won atau sekitar US$80,17 miliar, dengan ledakan permintaan chip memori dan high-bandwidth memory atau HBM menjadi pendorong utama.
Namun, memiliki chip bukan berarti otomatis memiliki seluruh ekosistem AI. Sebuah negara dapat menjadi produsen komponen penting untuk pusat data AI, tetapi tetap bergantung pada model yang dibuat perusahaan asing. Dari sudut pandang pemerintah Korea Selatan, ketergantungan seperti itu dapat menjadi persoalan strategis apabila AI semakin menentukan produktivitas ekonomi, keamanan nasional, layanan publik, dan industri masa depan.
Karena itu, proyek sovereign AI Korea Selatan bukan sekadar proyek membuat chatbot lokal. Tujuannya jauh lebih besar: membangun kemampuan nasional untuk mengembangkan model AI tingkat lanjut, memiliki talenta, menguasai infrastruktur komputasi, mengembangkan data dan teknologi inti, serta memastikan Korea tidak hanya menjadi pengguna AI buatan negara lain.

Korea Selatan Siapkan 4,7 Triliun Won untuk Frontier AI
Rencana terbaru Korea Selatan adalah mengalokasikan 4,7 triliun won untuk proyek pengembangan frontier AI model. Reuters melaporkan pada 6 Oktober 2026 bahwa program tersebut dijadwalkan mulai pada Maret 2027 dan menjadi bagian dari upaya Korea Selatan mengejar ketertinggalan dalam perlombaan pengembangan AI tingkat lanjut.
Istilah frontier AI mengacu pada model AI yang berada di garis depan kemampuan teknologi pada masanya. Model seperti ini biasanya membutuhkan jumlah komputasi yang sangat besar, data berkualitas tinggi, talenta penelitian tingkat lanjut, serta investasi yang sangat besar untuk pengembangan dan pengujiannya. Karena itu, membangun frontier model tidak sama dengan membuat aplikasi AI biasa.
Kementerian Sains Korea Selatan berencana memasukkan dana 4,7 triliun won tersebut ke dalam anggaran AI 2027 yang diusulkan. Total permintaan anggaran AI kementerian untuk 2027 dilaporkan mencapai 9,4 triliun won. Namun, pemerintah juga menegaskan bahwa detail pasti mengenai proyek frontier AI tersebut masih belum seluruhnya diputuskan.
Ini berarti pembaca perlu membedakan antara anggaran yang direncanakan, proyek yang sedang dipersiapkan, dan kemampuan AI yang sudah berhasil dibangun. Korea Selatan memang menggelontorkan dana besar dan memiliki target ambisius, tetapi belum berarti negara tersebut sudah memiliki model yang mampu menandingi model terbaik Amerika atau China.
Justru proyek inilah yang dimaksudkan untuk mengejar posisi tersebut.
Bukan Sekadar Membuat โChatGPT Koreaโ
Jika mendengar istilah AI buatan Korea Selatan, orang mungkin langsung membayangkan chatbot berbahasa Korea yang mirip dengan ChatGPT. Gambaran tersebut terlalu sederhana.
Model AI tingkat lanjut dapat menjadi infrastruktur teknologi yang digunakan di banyak sektor. Model tersebut dapat menjadi dasar bagi aplikasi perusahaan, robot, layanan pemerintah, manufaktur, kendaraan otonom, layanan kesehatan, penelitian ilmiah, hingga sistem pertahanan. Semakin kuat model yang dimiliki sebuah negara, semakin banyak teknologi turunan yang dapat dibangun di atasnya.
Korea Selatan juga memiliki keuntungan yang tidak dimiliki semua negara. Negara ini memiliki industri manufaktur yang sangat kuat dan ekosistem semikonduktor yang sudah matang. Pemerintah bahkan mendorong pengembangan physical AI, yaitu AI yang berinteraksi dengan dunia fisik melalui robot, kendaraan otonom, pabrik, perangkat rumah tangga, drone, dan sistem industri lainnya. Dalam rancangan strategi pemerintah, pengembangan AI tidak dipisahkan dari kekuatan manufaktur Korea.
Ini merupakan strategi yang menarik.
Amerika Serikat memiliki kekuatan besar dalam model AI dan perusahaan teknologi, sementara China memiliki skala industri, pasar domestik, serta perusahaan teknologi yang besar. Korea Selatan ingin mengambil posisi tersendiri dengan menggabungkan kekuatan semikonduktor + manufaktur + AI sebagai fondasi strategi teknologinya.
Korea Selatan Sudah Menggelontorkan 10 Triliun Won untuk AI
Proyek 4,7 triliun won tersebut sebenarnya hanyalah salah satu bagian dari investasi yang lebih besar.
Pada 2026, pemerintah Korea Selatan telah menetapkan anggaran sekitar 10,1 triliun won untuk sektor AI, meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah menyebut strategi tersebut sebagai bagian dari upaya menempatkan Korea Selatan di antara tiga kekuatan AI teratas dunia.
Dari anggaran tersebut, pemerintah juga memberikan perhatian besar kepada infrastruktur komputasi. Kementerian Sains dan ICT sebelumnya menyebut rencana untuk menambah 15.000 GPU canggih, membangun National AI Computing Center, memperkuat jaringan AI, serta membangun ruang data untuk melatih model AI khusus.
Hal ini menunjukkan satu realitas penting dalam perlombaan AI: model AI tidak dapat berkembang hanya dengan mengandalkan software.
Untuk membangun AI tingkat lanjut dibutuhkan GPU, pusat data, listrik, jaringan, data, peneliti, dan engineer dalam jumlah besar, dan semuanya membutuhkan biaya yang sangat besar. Karena itu, ketika sebuah negara mengatakan ingin membangun AI sendiri, sebenarnya yang sedang dibangun bukan hanya sebuah model AI, tetapi seluruh rantai pasok kecerdasan buatan.
Mengapa Semikonduktor Menjadi Senjata Strategis Korea Selatan?
Ada alasan mengapa Korea Selatan memiliki peluang cukup menarik dalam persaingan ini.
Korea Selatan sudah lama menjadi salah satu pusat produksi chip dunia. Samsung Electronics dan SK Hynix memiliki posisi penting dalam produksi memori, termasuk HBM yang sangat dibutuhkan oleh infrastruktur AI.
Ledakan AI justru meningkatkan nilai strategis industri tersebut. Model AI semakin besar membutuhkan semakin banyak komputasi, dan komputasi tersebut membutuhkan chip serta memori berkecepatan tinggi. Reuters melaporkan bahwa lonjakan permintaan AI telah mendorong harga dan permintaan chip memori, memberikan keuntungan besar kepada produsen seperti Samsung dan SK Hynix.
Namun, Korea Selatan tidak ingin berhenti di sini.
Jika sebelumnya perusahaan Korea menjual โotakโ berupa chip kepada perusahaan AI global, pemerintah sekarang ingin Korea juga memiliki โkecerdasanโ berupa model AI sendiri.
Strateginya kurang lebih seperti membangun dua sisi sekaligus.
Strategi tersebut pada dasarnya memiliki dua sisi yang harus berkembang bersama. Di sisi hardware, Korea Selatan memiliki chip, memori, pusat data, jaringan, dan infrastruktur komputasi; sedangkan di sisi software, negara ini perlu memperkuat model AI, algoritma, data, aplikasi, serta talenta. Jika keduanya berkembang secara terpadu, Korea Selatan memiliki peluang membangun ekosistem AI yang jauh lebih lengkap.
Tantangan Terbesarnya: Uang Saja Tidak Cukup
Meski investasi Korea Selatan sangat besar, membangun model AI tingkat lanjut bukan sekadar persoalan menyediakan anggaran.
Amerika Serikat memiliki perusahaan teknologi yang telah menginvestasikan dana sangat besar dalam AI selama bertahun-tahun. Mereka memiliki akses ke talenta global, infrastruktur cloud, pusat data, ekosistem startup, serta pengalaman melatih model berskala besar.
China juga tidak tinggal diam. Perusahaan teknologi China mengembangkan berbagai model domestik dan pemerintah memberikan dukungan kuat terhadap AI sebagai teknologi strategis.
Korea Selatan harus mengejar dua kekuatan yang sudah memiliki ekosistem besar.
Masalah lainnya adalah talenta.
Model AI canggih membutuhkan peneliti machine learning, engineer, ahli chip, spesialis data, peneliti keamanan AI, dan berbagai disiplin lain. Pemerintah Korea Selatan sendiri memasukkan pengembangan talenta sebagai salah satu komponen utama strategi AI nasional. Program yang diumumkan sebelumnya menargetkan pengembangan sekitar 11.000 tenaga profesional AI berkeahlian tinggi.
Ini menunjukkan bahwa perlombaan AI sebenarnya juga merupakan perlombaan mendapatkan manusia yang mampu membangun teknologi tersebut.
Korea Selatan Tidak Ingin Menjadi Penonton dalam Perang AI
Ada alasan geopolitik di balik ambisi tersebut.
AI kini semakin dipandang bukan hanya sebagai produk teknologi, tetapi sebagai infrastruktur strategis. Negara yang memiliki kemampuan AI kuat dapat memperoleh keuntungan dalam produktivitas industri, penelitian, pertahanan, kesehatan, pendidikan, layanan publik, dan ekonomi digital.
Jika sebuah negara terlalu bergantung pada teknologi AI asing, maka terdapat risiko ketika terjadi pembatasan ekspor, perubahan kebijakan perusahaan, gangguan rantai pasok, atau konflik geopolitik.
Kekhawatiran tersebut menjadi semakin relevan karena hubungan teknologi antara Amerika Serikat dan China semakin dipengaruhi oleh kebijakan perdagangan dan pembatasan teknologi strategis.
Bagi Korea Selatan, memiliki kemampuan AI domestik dapat menjadi semacam asuransi teknologi.
Bukan berarti Korea harus memutus hubungan dengan perusahaan Amerika atau China. Justru sebaliknya, perusahaan Korea tetap dapat menggunakan teknologi global sambil membangun kemampuan domestiknya sendiri.
Konsep inilah yang berada di balik istilah sovereign AI.
Apa Itu Sovereign AI?
Sovereign AI secara sederhana berarti kemampuan sebuah negara untuk mengembangkan, menjalankan, dan mengendalikan teknologi AI yang dianggap strategis dengan tingkat ketergantungan yang lebih rendah terhadap pihak asing.
Tetapi sovereign AI tidak selalu berarti semua komponen harus dibuat sendiri.
Sebuah negara masih dapat menggunakan chip asing, cloud asing, perangkat lunak open source, atau bekerja sama dengan perusahaan internasional. Yang menjadi perhatian adalah apakah negara tersebut memiliki kemampuan dan kontrol yang cukup terhadap teknologi AI yang dianggap penting bagi kepentingan nasional.
Korea Selatan ingin membangun kemampuan tersebut melalui investasi pada model AI, komputasi, data, talenta, dan industri.
Dengan demikian, tujuan sebenarnya bukan sekadar membuat โAI Koreaโ.
Tujuannya adalah memastikan bahwa ketika AI menjadi semakin penting bagi ekonomi dan keamanan, Korea Selatan tetap memiliki pilihan teknologinya sendiri.
Ada Risiko Korea Selatan Menghabiskan Terlalu Banyak Uang?
Tentu saja ada.
Investasi AI global saat ini sangat besar dan persaingan bergerak cepat. Reuters mencatat bahwa investasi AI dunia sudah mencapai skala luar biasa, dengan perusahaan teknologi dan penyedia infrastruktur menggelontorkan dana besar untuk pusat data, chip, dan model AI. Pada saat yang sama, terdapat pertanyaan mengenai seberapa cepat investasi tersebut akan menghasilkan produktivitas dan pendapatan nyata.
Artinya, Korea Selatan harus menghadapi dilema.
Jika investasinya terlalu kecil, Korea Selatan berisiko tertinggal. Sebaliknya, jika investasinya sangat besar tetapi model yang dihasilkan tidak kompetitif, pemerintah dapat menghadapi persoalan efisiensi penggunaan anggaran.
Karena itu, ukuran keberhasilan tidak boleh hanya berdasarkan jumlah triliun won yang dikeluarkan.
Yang jauh lebih penting adalah apakah investasi tersebut menghasilkan model yang kompetitif, infrastruktur yang berguna, talenta yang bertahan di dalam negeri, startup baru, produktivitas industri, dan teknologi yang benar-benar digunakan.
Korea Selatan Punya Keunggulan yang Tidak Dimiliki Semua Negara
Meski persaingannya berat, Korea Selatan bukan pemain baru dalam teknologi.
Negara tersebut memiliki perusahaan elektronik global, industri otomotif, galangan kapal, semikonduktor, robotika, jaringan telekomunikasi, dan basis manufaktur yang kuat.
Inilah yang membuat strategi Korea Selatan berbeda dari negara yang hanya ingin membuat model chatbot.
Pemerintah Korea juga mendorong penggunaan AI dalam industri seperti robotika, kendaraan, pembuatan kapal, peralatan rumah tangga, semikonduktor, dan manufaktur. Pemerintah menyebut akan mengalokasikan sekitar 6 triliun won selama lima tahun untuk mempercepat transformasi AI di sektor-sektor industri tersebut.
Jika strategi tersebut berhasil, AI Korea tidak harus memenangkan persaingan chatbot konsumen untuk menjadi penting.
AI dapat menjadi sangat kuat di tempat lain.
AI tersebut dapat diterapkan di pabrik, robot, kapal, mobil, semikonduktor, hingga berbagai sistem industri. Justru di sektor-sektor tersebut Korea Selatan memiliki pengalaman yang sangat panjang dan basis industri yang kuat.
Bagaimana dengan Samsung dan SK Hynix?
Peran Samsung dan SK Hynix menjadi sangat penting dalam strategi AI Korea Selatan karena keduanya berada di jantung rantai pasok chip AI.
Permintaan terhadap HBM meningkat karena chip tersebut digunakan untuk mendukung komputasi AI berperforma tinggi. Reuters pada Oktober 2026 melaporkan bahwa ledakan permintaan AI menjadi faktor utama di balik lonjakan keuntungan Samsung, sementara perusahaan tersebut juga terus berinvestasi besar dalam kapasitas chip.
Ini menciptakan situasi yang menarik.
Semakin besar AI berkembang di dunia, semakin besar pula permintaan terhadap chip Korea. Sebaliknya, semakin kuat kemampuan industri chip Korea, semakin besar fondasi yang tersedia untuk membangun AI domestik. Jika pemerintah mampu menghubungkan kedua sektor tersebut, Korea Selatan dapat menciptakan siklus yang saling memperkuat: chip mendukung AI, AI meningkatkan industri, dan industri menciptakan permintaan baru terhadap chip.
Namun, siklus tersebut membutuhkan investasi jangka panjang dan tidak otomatis berhasil.
Apakah Korea Selatan Bisa Menyaingi Amerika dan China?
Jawabannya belum dapat dipastikan.
Korea Selatan baru memasuki tahap yang lebih agresif dalam membangun frontier AI domestik, sedangkan perusahaan Amerika dan China telah menginvestasikan sumber daya sangat besar dalam model AI selama beberapa tahun.
Karena itu, angka 4,7 triliun won sebaiknya tidak dibaca sebagai jaminan bahwa Korea Selatan akan segera menghasilkan model AI terbaik dunia. Angka tersebut menunjukkan besarnya komitmen pemerintah, bukan hasil akhir yang sudah terbukti.
Namun, ada alasan mengapa langkah ini tetap penting.
Korea Selatan tidak harus mengalahkan Amerika dan China dalam setiap kategori AI. Negara tersebut dapat memilih area yang sesuai dengan kekuatan nasional, misalnya AI industri, robotika, manufaktur, semikonduktor, otomotif, dan physical AI. Jika Korea mampu menggabungkan model AI dengan keunggulan manufakturnya, posisi kompetitif yang dihasilkan bisa berbeda dari perusahaan yang hanya mengandalkan chatbot.
Perlombaan AI Sekarang Bukan Lagi Hanya Milik Big Tech
Salah satu perubahan paling penting dalam industri AI adalah semakin banyak negara yang mulai menganggap AI sebagai bagian dari strategi nasional.
Amerika Serikat memiliki perusahaan teknologi raksasa dan ekosistem modal yang besar.
China membangun model dan infrastrukturnya sendiri.
Eropa berusaha memperkuat teknologi sekaligus regulasinya.
Timur Tengah juga mulai menginvestasikan dana besar dalam pusat data dan AI.
Sekarang Korea Selatan memperlihatkan bahwa negara dengan industri semikonduktor dan manufaktur kuat juga ingin memiliki posisi sendiri.
Persaingan tersebut membuat AI semakin mirip dengan perlombaan teknologi strategis pada era sebelumnya. Bedanya, kali ini yang diperebutkan bukan hanya kemampuan membuat chip atau roket, tetapi kemampuan membangun mesin kecerdasan yang dapat digunakan di hampir semua sektor ekonomi.
Apa Artinya bagi Indonesia?
Perkembangan Korea Selatan memberikan pelajaran penting bagi Indonesia.
Indonesia tidak harus meniru Korea Selatan dengan menggelontorkan anggaran dalam jumlah yang sama. Struktur ekonomi kedua negara berbeda. Namun, ada satu prinsip yang sangat relevan: negara yang ingin mendapatkan manfaat besar dari AI tidak cukup hanya menjadi pengguna aplikasi AI dari luar negeri.
Indonesia perlu membangun ekosistemnya sendiri, mulai dari talenta AI, data berkualitas, pusat data, komputasi, keamanan, riset, pendidikan, hingga aplikasi AI yang sesuai dengan kebutuhan industri nasional. Indonesia juga memiliki keunggulan yang berbeda dari Korea Selatan, yaitu pasar domestik yang sangat besar, sumber daya manusia yang besar, industri yang beragam, serta kebutuhan digital yang sangat luas. Tantangannya adalah bagaimana mengubah skala tersebut menjadi kemampuan teknologi yang dapat bersaing. Korea Selatan sedang mencoba menghubungkan chip + AI + manufaktur, sedangkan Indonesia dapat memikirkan kombinasi yang berbeda: data + talenta + industri + pasar domestik + AI. Yang paling penting adalah tidak berhenti pada penggunaan chatbot.
Kesimpulan: Korea Selatan Tidak Ingin Hanya Menjual Chip untuk Revolusi AI
Keputusan Korea Selatan menyiapkan 4,7 triliun won atau sekitar US$3,5 miliar untuk mengembangkan frontier AI model menunjukkan perubahan besar dalam strategi teknologi negara tersebut. Seoul tidak lagi hanya ingin menjadi pemasok komponen penting untuk revolusi AI global. Pemerintah ingin memiliki model AI tingkat lanjut, infrastruktur komputasi, talenta, dan ekosistem teknologi yang dapat mengurangi ketergantungan pada kekuatan AI asing.
Ambisinya bahkan lebih besar. Korea Selatan menargetkan posisi sebagai salah satu dari tiga kekuatan AI dunia dan telah mengalokasikan sekitar 10,1 triliun won untuk sektor AI pada 2026. Investasi tersebut mencakup infrastruktur komputasi, GPU, pengembangan talenta, AI industri, dan berbagai teknologi pendukung.
Namun, uang tidak otomatis menghasilkan AI yang unggul. Korea Selatan masih harus menghadapi Amerika Serikat dan China yang memiliki perusahaan, modal, talenta, serta ekosistem AI yang sangat besar. Tantangan lainnya adalah memastikan investasi tersebut menghasilkan model yang benar-benar kompetitif dan memberikan manfaat ekonomi, bukan hanya proyek teknologi berskala besar.
Yang menarik adalah Korea Selatan memiliki kartu yang berbeda.
Negara ini memiliki Samsung, SK Hynix, semikonduktor, manufaktur, robotika, otomotif, dan industri teknologi yang sangat kuat.
Jika semuanya berhasil disatukan dengan AI, Korea Selatan mungkin tidak perlu menjadi โAmerika keduaโ atau โChina keduaโ.
Mereka bisa membangun jalannya sendiri.
Dan dalam perlombaan AI yang semakin menentukan posisi ekonomi negara, memiliki kemampuan untuk membangun AI sendiri mungkin bukan lagi simbol prestise teknologi tetapi bagian dari kemandirian strategis.