Bayangkan pemerintah harus menentukan menu, menghitung kebutuhan bahan makanan, memantau ribuan dapur, mengawasi kebersihan, dan mendeteksi masalah kesehatan dalam sebuah program yang menjangkau masyarakat dalam skala sangat besar. Sekarang bayangkan sebagian pekerjaan tersebut dibantu oleh kecerdasan buatan.
Itulah gambaran yang muncul dari rancangan kebijakan pemerintah Indonesia yang dilaporkan Reuters pada 22 Juni 2026. Pemerintah berencana memasukkan artificial intelligence atau AI ke dalam sejumlah program prioritas, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam rancangan tersebut, AI direncanakan membantu berbagai pekerjaan seperti perencanaan menu berdasarkan wilayah, pemantauan kebersihan dapur, prediksi kebutuhan makanan, pendeteksian ketidakberesan, hingga pemanfaatan data kesehatan untuk memberikan peringatan dini. Namun ada satu hal yang sangat penting agar pemberitaan mengenai topik ini tidak keliru: yang dilaporkan Reuters adalah rencana kebijakan, bukan bukti bahwa AI sudah diterapkan secara nasional di seluruh operasional MBG. Pada saat laporan tersebut diterbitkan, rancangan kebijakan masih menunggu tanda tangan Presiden Prabowo Subianto. Reuters
Jika rencana tersebut benar-benar diterapkan, penggunaan AI dalam MBG akan menjadi salah satu contoh menarik bagaimana teknologi tidak lagi hanya digunakan untuk membuat teks, gambar, atau chatbot, tetapi mulai masuk ke pengelolaan program publik yang memiliki dampak langsung terhadap masyarakat. AI dalam konteks ini bukan berarti robot yang memasak makanan atau mesin yang menggantikan petugas di dapur. Perannya lebih dekat sebagai sistem pendukung keputusan yang membantu manusia membaca data dalam jumlah besar, menemukan pola, membuat prediksi, dan memberikan peringatan ketika ada sesuatu yang terlihat tidak normal. Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah pemerintah akan menggunakan AI, tetapi seperti apa sebenarnya AI tersebut bekerja di balik program makan bergizi gratis?

Mengapa Program MBG Membutuhkan AI?
Dari luar, program makan bergizi mungkin terlihat sederhana: pemerintah menentukan menu, bahan makanan disiapkan, makanan dimasak, kemudian dibagikan kepada penerima. Tetapi ketika program tersebut dijalankan dalam skala nasional, persoalannya berubah menjadi jauh lebih kompleks. Pemerintah harus memperhitungkan jumlah penerima di berbagai wilayah, ketersediaan bahan pangan, harga komoditas, kapasitas dapur, distribusi makanan, kandungan gizi, kebersihan, jadwal sekolah, hingga kemungkinan terjadinya masalah kesehatan. Semakin besar skala program, semakin besar pula volume data yang harus diproses dan dibandingkan dari waktu ke waktu.
Di sinilah AI dapat memiliki peran yang berbeda dari sekadar aplikasi biasa. AI dapat digunakan untuk menganalisis banyak variabel secara bersamaan dan menghasilkan rekomendasi berdasarkan pola data yang tersedia. Misalnya, sistem dapat membandingkan jumlah penerima di suatu wilayah dengan kebutuhan bahan makanan, kapasitas dapur, pola konsumsi sebelumnya, serta kondisi pasokan lokal. Hasil analisis tersebut kemudian dapat digunakan oleh pengelola untuk mengambil keputusan yang lebih cepat dan terukur. Reuters melaporkan bahwa rancangan strategi AI pemerintah Indonesia untuk 2026โ2029 memang memasukkan MBG sebagai salah satu program yang direncanakan memanfaatkan AI dalam sejumlah fungsi operasional. Reuters
Namun, penggunaan AI dalam program sebesar MBG juga membawa konsekuensi. Semakin banyak keputusan yang dibantu algoritma, semakin penting kualitas data, keamanan sistem, serta mekanisme pemeriksaan manusia. AI dapat menghasilkan rekomendasi berdasarkan data yang diberikan kepadanya, tetapi tidak dapat menjamin bahwa data tersebut selalu benar atau lengkap. Karena itu, keberhasilan AI dalam MBG tidak hanya bergantung pada seberapa canggih model yang digunakan, tetapi juga pada kualitas tata kelola data dan kemampuan manusia yang mengawasi sistem tersebut.
1. AI Dapat Membantu Menentukan Menu Berdasarkan Kondisi Setiap Wilayah
Salah satu penggunaan AI yang disebut dalam rancangan kebijakan adalah membantu membuat menu yang disesuaikan dengan wilayah. Hal ini masuk akal karena Indonesia memiliki kondisi geografis dan karakteristik pangan yang sangat beragam. Bahan makanan yang mudah ditemukan di Jawa belum tentu tersedia dalam jumlah yang sama di Papua, Maluku, Kalimantan, Sulawesi, atau wilayah lainnya. Harga, musim panen, kebiasaan makan, hingga kemampuan pemasok lokal juga dapat berbeda secara signifikan.
Dalam kondisi seperti itu, AI dapat membantu menganalisis berbagai informasi secara bersamaan. Sistem dapat menerima data mengenai jumlah penerima, kebutuhan nutrisi, bahan pangan yang tersedia, harga bahan, kapasitas dapur, serta kondisi pasokan di suatu wilayah. Dari data tersebut, AI dapat memberikan beberapa alternatif menu yang secara matematis memenuhi parameter tertentu. Rekomendasi tersebut kemudian dapat diperiksa oleh ahli gizi dan pengelola program sebelum digunakan.
Yang perlu digarisbawahi adalah AI tidak seharusnya menjadi pihak terakhir yang menentukan menu untuk anak-anak. Rekomendasi algoritma tetap harus melalui validasi manusia, terutama karena kebutuhan gizi dapat berbeda berdasarkan usia, kondisi kesehatan, alergi, dan faktor lainnya. AI sangat berguna ketika harus mengolah data dalam jumlah besar, tetapi keputusan yang menyangkut kesehatan manusia tetap membutuhkan pertimbangan profesional dan tanggung jawab yang jelas. Dengan model seperti ini, AI berfungsi sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti ahli gizi atau pengelola program.
2. AI Bisa Memprediksi Kebutuhan Makanan
Bayangkan sebuah sistem yang harus memperkirakan berapa banyak beras, telur, sayuran, buah, protein, dan bahan makanan lain yang dibutuhkan untuk berbagai wilayah dalam periode tertentu. Angka tersebut tidak selalu tetap karena jumlah penerima dapat berubah, sekolah memiliki jadwal berbeda, harga bahan makanan bergerak, dan kondisi distribusi dapat berubah. Jika seluruh perhitungan dilakukan secara manual dari berbagai sumber data, pekerjaan tersebut dapat menjadi sangat kompleks dan membutuhkan waktu.
AI dapat digunakan untuk membuat prediksi kebutuhan berdasarkan pola historis dan kondisi terkini. Sistem dapat mempelajari data sebelumnya mengenai jumlah makanan yang digunakan, jumlah penerima, kapasitas dapur, pola distribusi, serta perubahan kebutuhan di wilayah tertentu. Dari sana, AI dapat memberikan estimasi kebutuhan untuk periode berikutnya sehingga pengelola memiliki dasar yang lebih baik ketika merencanakan pengadaan dan distribusi bahan.
Tetapi prediksi AI tidak boleh dianggap sebagai angka yang pasti. Jika data sebelumnya tidak lengkap atau terjadi kondisi yang tidak pernah muncul dalam data pelatihan, hasil prediksi dapat meleset. Karena itu, sistem perlu terus membandingkan prediksi dengan kondisi aktual dan melakukan evaluasi ketika terdapat perbedaan besar. Dengan pendekatan tersebut, AI tidak hanya menghasilkan angka, tetapi menjadi bagian dari proses perencanaan yang terus diperbaiki berdasarkan kenyataan di lapangan.
3. AI Dapat Membantu Memantau Kebersihan Dapur
Kebersihan dapur merupakan bagian yang sangat penting karena menyangkut langsung keamanan makanan yang dikonsumsi penerima MBG. Dalam rancangan kebijakan yang dilaporkan Reuters, AI juga direncanakan digunakan untuk membantu memantau kebersihan dapur. Konsep ini dapat mencakup pengolahan berbagai data inspeksi, laporan kebersihan, jadwal pemeriksaan, dan informasi operasional lainnya. Namun, laporan Reuters tidak berarti bahwa pemerintah sudah memasang sistem kamera AI di seluruh dapur MBG, sehingga klaim semacam itu sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam artikel sebagai fakta.
Jika teknologi computer vision nantinya digunakan, misalnya, AI dapat membantu menemukan pola atau kondisi tertentu yang perlu diperiksa oleh petugas. Sistem dapat berfungsi sebagai lapisan pemantauan tambahan yang membantu manusia menentukan lokasi atau aktivitas yang perlu mendapat perhatian. Akan tetapi, AI tetap tidak dapat menggantikan pemeriksaan keamanan pangan secara keseluruhan karena kondisi dapur memiliki banyak faktor yang mungkin tidak dapat ditangkap hanya melalui gambar atau sensor.
Pendekatan yang lebih realistis adalah menempatkan AI sebagai alat deteksi awal. Ketika sistem menemukan sesuatu yang berbeda dari standar atau pola normal, petugas dapat melakukan pemeriksaan langsung. Dengan cara tersebut, teknologi digunakan untuk mempercepat pengawasan tanpa memberikan kewenangan penuh kepada algoritma untuk menentukan bahwa sebuah dapur aman atau tidak aman.
4. AI Bisa Menemukan Ketidakberesan dalam Data MBG
Semakin besar sebuah program, semakin sulit bagi manusia untuk memeriksa seluruh transaksi dan laporan secara manual. Dalam MBG, data dapat berasal dari berbagai sumber, mulai dari jumlah penerima, pengadaan bahan, distribusi, kapasitas dapur, produksi makanan, hingga laporan operasional. AI dapat membantu mencari pola yang berbeda secara signifikan dari kondisi normal sehingga petugas dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Misalnya, sebuah dapur biasanya menggunakan jumlah bahan tertentu untuk jumlah penerima tertentu, tetapi pada suatu periode terjadi perubahan yang sangat besar. AI dapat menandai kondisi tersebut sebagai anomali. Namun, anomali tidak otomatis berarti terjadi penyelewengan. Perbedaan tersebut bisa saja disebabkan oleh peningkatan jumlah penerima, perubahan menu, kondisi khusus di wilayah tersebut, atau faktor operasional lainnya.
Karena itu, sistem pengawasan yang baik tidak seharusnya mengatakan bahwa AI telah menemukan pelanggaran. AI sebaiknya memberikan sinyal bahwa โdata ini berbeda dari pola normal dan perlu diperiksa.โ Petugas kemudian menelusuri penyebabnya dan menentukan apakah terdapat masalah atau justru alasan yang sah. Cara kerja seperti ini jauh lebih aman karena algoritma digunakan untuk membantu manusia menemukan hal yang sulit dilihat dalam data berukuran besar, bukan untuk menggantikan proses pemeriksaan dan penilaian manusia.
5. Data Kesehatan Bisa Digunakan untuk Peringatan Dini
Bagian yang paling sensitif dalam rencana tersebut adalah penggunaan AI bersama data kesehatan untuk membantu memberikan peringatan dini terhadap keadaan darurat. Jika dilakukan dengan tata kelola yang tepat, sistem dapat membantu mengidentifikasi pola yang mungkin tidak mudah terlihat ketika data diperiksa secara manual. Misalnya, peningkatan laporan keluhan kesehatan di wilayah tertentu dapat menjadi sinyal untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap kondisi makanan, dapur, distribusi, atau faktor lainnya.
Namun, sistem seperti ini harus dibangun dengan tingkat keamanan dan perlindungan data yang sangat tinggi. Data kesehatan bukan sekadar data operasional biasa. Akses harus dibatasi sesuai kebutuhan, penggunaan harus memiliki tujuan yang jelas, dan sistem harus memiliki mekanisme untuk mencegah data digunakan di luar tujuan yang telah ditetapkan. AI juga tidak seharusnya langsung mengambil kesimpulan medis hanya berdasarkan pola statistik tanpa pemeriksaan tenaga kesehatan.
Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat berfungsi sebagai radar data. Ia membantu menemukan pola yang perlu diperhatikan, kemudian manusia melakukan investigasi untuk mencari penyebab sebenarnya. Ini berbeda dengan membiarkan AI membuat diagnosis atau keputusan medis secara otomatis. Untuk program publik yang menyangkut kesehatan anak, batas antara rekomendasi AI dan keputusan manusia harus dibuat sangat jelas.
Bukan AI yang Memasak, Tetapi AI yang Membantu Mengelola Kompleksitas
Ada kesalahpahaman yang mudah muncul ketika mendengar pemerintah akan menggunakan AI dalam MBG. Orang mungkin membayangkan robot memasak, sistem otomatis menentukan seluruh menu, atau komputer yang mengambil alih pekerjaan petugas. Padahal, berdasarkan informasi Reuters, fungsi AI yang direncanakan jauh lebih dekat dengan analitik data, prediksi, monitoring, dan dukungan keputusan.
Perbedaan tersebut penting karena AI tidak menggantikan rantai operasional MBG. Tetap ada petugas yang membeli bahan, tenaga yang memasak, ahli yang memeriksa gizi, pengelola yang mengatur distribusi, petugas yang memeriksa kebersihan, dan manusia yang bertanggung jawab apabila terjadi masalah. AI berada di lapisan yang membantu mengolah informasi dari proses tersebut sehingga keputusan tertentu dapat dibuat berdasarkan data yang lebih banyak dan lebih cepat.
Justru di sinilah manfaat AI yang paling realistis. Ketika jumlah data sudah sangat besar, manusia dapat mengalami kesulitan untuk melihat hubungan antara ribuan bahkan jutaan catatan. AI dapat membantu menemukan pola, tetapi manusia tetap memahami konteks dan menentukan tindakan. AI menghitung dan menemukan pola; manusia memeriksa, menilai, dan bertanggung jawab.
Tantangan Terbesarnya Bukan Model AI, tetapi Data
Ada satu persoalan yang sering terlupakan ketika pemerintah atau perusahaan berbicara tentang penerapan AI: AI tidak otomatis membuat data yang buruk menjadi benar. Jika jumlah penerima yang tercatat tidak akurat, model prediksi kebutuhan makanan juga dapat menghasilkan angka yang salah. Jika data dapur tidak lengkap, sistem monitoring dapat menghasilkan peringatan yang tidak akurat. Jika data kesehatan terlambat masuk, sistem peringatan dini juga dapat terlambat memberikan sinyal.
Karena itu, sebelum membangun sistem AI yang canggih, pemerintah perlu memastikan bahwa data MBG memiliki definisi yang jelas, format yang konsisten, sumber yang dapat ditelusuri, serta mekanisme pembaruan yang teratur. Setiap perubahan data juga harus dapat diketahui siapa yang melakukan dan kapan perubahan tersebut terjadi. Dalam proyek AI berskala nasional, data governance sering kali sama pentingnya dengan teknologi AI yang digunakan.
Hal ini juga berkaitan dengan interoperabilitas. Jika data dari sekolah, dapur, pemasok, fasilitas kesehatan, dan pemerintah daerah memiliki format berbeda-beda, AI akan kesulitan menggabungkannya secara akurat. Maka, pekerjaan besar yang mungkin tidak terlihat oleh masyarakat justru berada di belakang layar: menyatukan data, membersihkan data, menetapkan standar, mengatur akses, dan memastikan bahwa sistem yang berbeda dapat berkomunikasi satu sama lain.
Bagaimana Jika AI Salah?
Pertanyaan ini harus dijawab sebelum sistem diterapkan, bukan setelah terjadi masalah. Misalnya, AI memberikan rekomendasi menu berdasarkan data bahan pangan yang ternyata sudah tidak diperbarui. Atau sistem memprediksi kebutuhan terlalu rendah karena menggunakan data historis yang tidak lagi sesuai dengan kondisi terbaru. Bisa juga algoritma mendeteksi sebuah dapur sebagai anomali padahal perubahan tersebut sebenarnya terjadi karena jumlah penerima meningkat.
Kesalahan seperti itu menunjukkan mengapa AI tidak boleh ditempatkan sebagai satu-satunya pengambil keputusan. Sistem perlu memiliki mekanisme validasi, batas kewenangan, audit, serta jalur eskalasi ketika rekomendasi AI dianggap tidak masuk akal. Untuk keputusan yang menyangkut kesehatan dan keselamatan, manusia harus memiliki kemampuan untuk menolak rekomendasi sistem dan melakukan pemeriksaan secara langsung.
Prinsipnya sederhana: semakin besar dampak keputusan AI terhadap manusia, semakin tinggi tingkat pengawasan yang dibutuhkan. AI yang membantu membuat laporan administratif tidak memiliki risiko yang sama dengan AI yang membantu menentukan keputusan terkait kesehatan anak. Karena itu, desain sistem harus mengikuti tingkat risiko, bukan sekadar mengikuti seberapa canggih teknologi yang tersedia.
Indonesia Tidak Bisa Hanya Membeli Teknologi AI
Reuters juga menyoroti persoalan yang lebih besar dalam strategi AI Indonesia, yaitu kebutuhan terhadap infrastruktur dan talenta. Jika Indonesia ingin menggunakan AI dalam program pemerintah berskala besar, tantangannya bukan hanya memilih model AI yang bagus. Pemerintah juga membutuhkan pusat data, jaringan yang stabil, keamanan siber, tenaga ahli, pengelola data, analis, serta sumber daya manusia di daerah yang mampu menggunakan sistem tersebut.
Kondisi Indonesia yang memiliki wilayah geografis sangat luas membuat persoalan ini semakin kompleks. Sistem yang berjalan dengan baik di kota besar belum tentu mudah diterapkan di daerah yang memiliki keterbatasan konektivitas atau infrastruktur digital. Bahkan ketika teknologi tersedia, kemampuan pengguna di lapangan juga dapat berbeda. Karena itu, keberhasilan AI dalam MBG akan sangat ditentukan oleh bagaimana teknologi tersebut diterjemahkan menjadi proses kerja yang sederhana dan dapat digunakan oleh orang-orang yang menjalankan program setiap hari.
Dalam konteks ini, AI seharusnya tidak dipandang sebagai proyek teknologi semata. Ia harus dipandang sebagai proyek transformasi proses kerja. Pemerintah perlu mengetahui masalah apa yang ingin diselesaikan, data apa yang dibutuhkan, siapa yang menggunakan hasil analisis, apa yang dilakukan ketika AI salah, dan siapa yang bertanggung jawab terhadap keputusan akhir. Tanpa jawaban tersebut, sistem AI berisiko hanya menjadi dashboard mahal yang tidak memberikan perubahan berarti di lapangan.
Apakah AI Akan Menggantikan Manusia dalam Program MBG?
Tidak ada indikasi dari laporan Reuters bahwa rencana tersebut dimaksudkan untuk menggantikan manusia yang menjalankan MBG. Justru penggunaan AI yang paling masuk akal adalah sebagai pendukung pekerjaan manusia. Ahli gizi tetap diperlukan untuk memeriksa menu, petugas tetap dibutuhkan untuk memeriksa dapur, pengelola tetap harus mengatur distribusi, dan tenaga kesehatan tetap memiliki peran ketika muncul persoalan kesehatan.
AI dapat membantu mempercepat pekerjaan yang bersifat analitis. Ketika manusia harus memeriksa ribuan data secara manual, AI dapat membantu menemukan pola yang perlu diperhatikan. Ketika manusia harus membuat perkiraan berdasarkan banyak variabel, AI dapat membantu membuat model prediksi. Tetapi keputusan akhir tetap harus memiliki pemilik yang jelas.
Model seperti ini penting karena teknologi AI memiliki keterbatasan. AI dapat menghasilkan rekomendasi yang tampak masuk akal tetapi salah, terutama ketika berhadapan dengan data yang tidak lengkap atau situasi yang berbeda dari pola sebelumnya. Oleh karena itu, human in the loop bukan sekadar konsep akademis, tetapi dapat menjadi bagian penting dari sistem AI pemerintah yang berdampak langsung terhadap masyarakat.
Apakah AI untuk MBG Sudah Diterapkan?
Belum tepat jika dikatakan bahwa AI sudah digunakan secara nasional untuk mengelola seluruh Program Makan Bergizi Gratis. Informasi Reuters pada 22 Juni 2026 merujuk pada rancangan strategi pemerintah untuk pemanfaatan AI pada periode 2026โ2029. MBG tercantum sebagai salah satu program yang direncanakan memperoleh dukungan AI, sementara rancangan kebijakan tersebut pada saat itu masih menunggu tanda tangan Presiden.
Perbedaan antara โrencanaโ dan โimplementasiโ sangat penting dalam pemberitaan teknologi. Sebuah dokumen kebijakan dapat menjelaskan apa yang ingin dilakukan pemerintah, tetapi tidak otomatis berarti seluruh teknologi tersebut sudah tersedia atau digunakan di lapangan. Tahap berikutnya dapat mencakup pengembangan sistem, pengadaan teknologi, pengujian, integrasi data, pelatihan pengguna, hingga implementasi secara bertahap.
Karena itu, pembaca sebaiknya berhati-hati terhadap judul seperti โAI Sudah Mengelola MBG di Seluruh Indonesiaโ jika sumbernya hanya mengacu pada laporan Reuters mengenai rancangan kebijakan. Klaim yang lebih akurat adalah bahwa pemerintah Indonesia merencanakan pemanfaatan AI dalam sejumlah aspek MBG sebagai bagian dari strategi AI nasional 2026โ2029. Ini bukan sekadar masalah pemilihan kata, tetapi menyangkut akurasi informasi publik.
Jika Berhasil, MBG Bisa Menjadi Contoh Besar AI untuk Layanan Publik
Program MBG memiliki karakteristik yang membuatnya menarik sebagai kasus penggunaan AI: jumlah penerima besar, wilayah luas, rantai pasokan kompleks, kebutuhan makanan yang berubah, serta kebutuhan pengawasan yang terus berjalan. Jika data dan infrastrukturnya disiapkan dengan baik, AI berpotensi membantu pemerintah memahami program tersebut secara lebih cepat dan terukur.
Namun, keberhasilan tidak akan ditentukan oleh seberapa sering kata โAIโ muncul dalam dokumen kebijakan. Yang lebih penting adalah apakah teknologi tersebut benar-benar membantu mengurangi pemborosan, meningkatkan ketepatan perencanaan, mempercepat deteksi masalah, meningkatkan keamanan pangan, dan membuat pelayanan kepada penerima menjadi lebih baik.
Jika semua itu tercapai, AI dapat menjadi bagian penting dari transformasi layanan publik Indonesia. Tetapi jika data buruk, infrastruktur tidak siap, pengguna tidak terlatih, atau keputusan AI tidak diawasi dengan baik, teknologi tersebut justru dapat menciptakan masalah baru. AI yang bagus tidak otomatis menghasilkan kebijakan yang bagus; hasil akhirnya tetap bergantung pada kualitas manusia, data, dan tata kelola yang mengelilinginya.
Kesimpulan: Di Balik Sepiring Makanan, Ada Sistem AI yang Sangat Kompleks
Rencana pemerintah Indonesia menggunakan AI dalam Program Makan Bergizi Gratis menunjukkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan mulai bergerak jauh melampaui chatbot dan aplikasi konsumen. Berdasarkan laporan Reuters pada 22 Juni 2026, rancangan strategi AI pemerintah 2026โ2029 mencakup pemanfaatan AI untuk membantu perencanaan menu berdasarkan wilayah, pemantauan kebersihan dapur, prediksi kebutuhan makanan, pendeteksian ketidakberesan, serta pemanfaatan data kesehatan untuk memberikan peringatan dini. Tetapi sekali lagi, status yang dilaporkan Reuters saat itu adalah rencana kebijakan, bukan implementasi nasional yang telah dipastikan berjalan.
Jika diterapkan dengan tata kelola yang baik, AI dapat membantu pemerintah menangani kompleksitas MBG yang sangat besar. Sistem dapat membaca data dalam jumlah besar, membuat prediksi kebutuhan, menemukan pola yang tidak biasa, dan memberikan peringatan lebih cepat kepada petugas. Namun AI tetap membutuhkan data yang berkualitas, infrastruktur yang memadai, keamanan informasi, tenaga ahli, serta mekanisme pengawasan manusia.
Pada akhirnya, keberhasilan teknologi ini tidak akan diukur dari seberapa canggih model AI yang digunakan. Ukurannya jauh lebih sederhana: apakah teknologi tersebut benar-benar membantu memastikan makanan yang diberikan tepat jumlah, tepat sasaran, aman, dan bergizi?
Karena di balik teknologi yang terdengar futuristis itu, ada tujuan yang sangat nyata.
Bukan membuat pemerintah terlihat semakin canggih.
Melainkan memastikan makanan yang sampai ke meja anak-anak Indonesia benar-benar memberikan manfaat.